Selasa, 30 Oktober 2018
Suka Duka Umma Hamil
Assalamu'alaikum wr wb...
Hai, apa kabar teman-teman dedek bayi, Umma dan Abah? Kali ini Umma nih yang ada disini. Umma lagi pengen berbagi cerita dengan teman-teman semua tentang masa-masa kehamilan Umma. Semoga selain menghibur, memberikan manfaat dan ilmu juga ya... Bisa diambil pelajaran tentunya...
Alhamdulillah, setelah dua bulan menikah, Umma diberikan kepercayaan oleh Allah swt. Umma mengandung dedek bayi. Tentunya Umma dan Abah seneng sekali karena Allah swt berikan kepercayaan untuk mengandung dedek bayi.
Selama penantian, yakni selama dua bulan, Umma memang ingin segeera memiliki momongan. Umma banyak belajar dan membaca tentang bagaimana kehamilan itu. Bagaimana melewati masa-masa kehamilan dengan baik, dan bagaimana cara menjaga kandungan supaya kehamilan itu sesuai dengan seharusnya. Alhamdulillah, kemudian Allah swt berikan kesempatan kepada Umma untuk mengandung dedek bayi.
Sebagaimana ibu-ibu hamil pada umumnya, terutama untuk kehamilan pertama, pasti ada perubahan dalam tubuh si ibu. Baik dari sisi psikologis, kesehatan maupun rohani. Dari sisi psikologis Umma merasa lebih sensitif. Kalau zaman sekarang dibilangnya baper, suka ngambek, atau bahkan marah dan menangis. Dari sisi kesehatan, Umma merasa banyak sekali perubahan. Terutama di trimester pertama dari masa kehamilan.
Pada masa trimester pertama ini, Umma suka merasa mual, pusing, muntah, lemas, tidak bertenaga, dan turun berat badan. Mual-mualnya Umma itu parah, bahkan sampai mabok atau teller. Setiap apapun yang Umma makan pasti akan keluar lagi, bahkan sampai terkuras habis isi lambungnya. Sampai-sampai yang keluar itu cairan kuning atau cairan bening. Tiga bulan pertama kehamilan berat badan Umma turun satu kg setiap bulannya. Dan dalam menjalani hari-hari itu Umma tidak bergairah, karena tidak punya tenaga. Lemas. Mengingat setiap apapun yang dimakan pasti keluar lagi. Baik itu nasi, sayur, buah, juz bahkan air putih. Sehingga Umma kekurangan banyak cairan. Akibatnya tubuh lemas dan kepala sering pusing.
Karena kondisi itulah, Umma jarang sekali melakukan pekerjaan rumah. Lebih banyak tidur dan berbaring untuk beristirahat. Karenanya, Abah lah yang banyak membantu Umma seperti menyuci, mengepel, menyapu, dan mencuci piring atau gelas. Umma pun tidak memiliki kekuatan untuk melakukan aktivitas memasak. Oleh karena itu, Umma dan Abah lebih banyak beli makan di luar. Dan tentu saja di masa-masa ini terjadi pengeluaran yang lebih banyak. Karena apa-apa harus beli. Hehehehe...
Di saat trimester pertama ini juga, selain faktor kesehatan yang menurun, Umma merasa sisi psikologis juga sangat berubah. Bawaannya selalu ingin menangis dan ingin pulang ke kampung halaman Umma. Mengingat saat itu Umma tidak ada teman kalau di kontrakan, karena Abah bekerja. Jadi Umma merasa kesepian dan sendiri. Alhamdulillah, Ummi bisa bersabar sampai akhirnya mbah uti dan mbah akung menjemput Umma pulang ke kampung halaman untuk berlebaran di sana. Sementara Umma pulang duluan ke kampung halaman, Abah ditinggal di Bekasi. Baru seminggu menjelang lebaran, Abah menyusul ke Lampung.
Selama di Lampung, alhamdulillah kondisi Umma membaik. Perlahan-perlahan Umma sudah doyan makan dan tidak muntah lagi. Meskipun masih mual, tapi hanya kadangkala, tidak setiap hari. Waktu itu, kandungan Umma udah menginjak usia empat bulan. Memasuki trimester kedua kehamilan, Umma sudah lebih baik. Berat badan Umma pun mulai meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Dan perut Umma semakin terlihat menonjol dengan jelas, artinya dedek bayi sudah mulai tumbuh di dalam perut Umma.
Kurang lebih dua bulan Umma ada di Lampung, baru setelah itu Abah menjemput Umma ke Lampung, dan kembali ke Bekasi. Selama di Lampung dan berjauhan dari Abah, Umma suka merasa kangen dengan Abah. Terkadang suka menangis, karena dedek bayi dan Umma tidak bisa bertemu Abah setiap hari. Alhamdulillah, setelah Umma merasa sudah sehat dan bisa bepergian jauh, akhirnya Umma pulang ke Bekasi dijemput Abah. Kita kembali ke Bekasi naik pesawat dan kereta api.
Di Bekasi, kurang lebih cuma dua bulan juga. Setelah itu Umma dijemput Mbah Akung dan Mbah Uti lagi pulang ke Lampung. Karena Umma berencana melahirkan di Lampung. Supaya ada teman yang menemani. Sebab Abah kerjanya ada dua shift, jadi tidak bisa selalu standby. Selama di Lampung, Umma beberapa kali periksa kandungan. Dan, berat badan dedek bayi selalu kurang dari yang seharusnya. Jadi Umma diminta banyak makan Alpukat, telor ayam kampung, ice cream dan juga minum susu. Alhamdulillah memasuki usia kandungan 36 weeks, dedek bayi beratnya sudah nambah bahkan sampai 3 kg. Sekarang Umma tinggal menunggu saat kelahiran tiba. Mohon doanya ya buat sahabat dedek bayi, Umma dan Abah. Semoga Allah berikan kelancaraan, kemudahan, dan keselamatan buat Umma dan dedek bayi saat waktu persalinan nanti. Begitulah sedikit cerita dari Umma tentang kehamilan dedek bayi. Suka duka saat hamil, semoga perjuangan ini Allah balas dengan banyak kebaikan dan dedek menjadi anak yang sholih/sholiha. Aamiin ya Allah...
Hai, apa kabar teman-teman dedek bayi, Umma dan Abah? Kali ini Umma nih yang ada disini. Umma lagi pengen berbagi cerita dengan teman-teman semua tentang masa-masa kehamilan Umma. Semoga selain menghibur, memberikan manfaat dan ilmu juga ya... Bisa diambil pelajaran tentunya...
Alhamdulillah, setelah dua bulan menikah, Umma diberikan kepercayaan oleh Allah swt. Umma mengandung dedek bayi. Tentunya Umma dan Abah seneng sekali karena Allah swt berikan kepercayaan untuk mengandung dedek bayi.
Selama penantian, yakni selama dua bulan, Umma memang ingin segeera memiliki momongan. Umma banyak belajar dan membaca tentang bagaimana kehamilan itu. Bagaimana melewati masa-masa kehamilan dengan baik, dan bagaimana cara menjaga kandungan supaya kehamilan itu sesuai dengan seharusnya. Alhamdulillah, kemudian Allah swt berikan kesempatan kepada Umma untuk mengandung dedek bayi.
Sebagaimana ibu-ibu hamil pada umumnya, terutama untuk kehamilan pertama, pasti ada perubahan dalam tubuh si ibu. Baik dari sisi psikologis, kesehatan maupun rohani. Dari sisi psikologis Umma merasa lebih sensitif. Kalau zaman sekarang dibilangnya baper, suka ngambek, atau bahkan marah dan menangis. Dari sisi kesehatan, Umma merasa banyak sekali perubahan. Terutama di trimester pertama dari masa kehamilan.
Pada masa trimester pertama ini, Umma suka merasa mual, pusing, muntah, lemas, tidak bertenaga, dan turun berat badan. Mual-mualnya Umma itu parah, bahkan sampai mabok atau teller. Setiap apapun yang Umma makan pasti akan keluar lagi, bahkan sampai terkuras habis isi lambungnya. Sampai-sampai yang keluar itu cairan kuning atau cairan bening. Tiga bulan pertama kehamilan berat badan Umma turun satu kg setiap bulannya. Dan dalam menjalani hari-hari itu Umma tidak bergairah, karena tidak punya tenaga. Lemas. Mengingat setiap apapun yang dimakan pasti keluar lagi. Baik itu nasi, sayur, buah, juz bahkan air putih. Sehingga Umma kekurangan banyak cairan. Akibatnya tubuh lemas dan kepala sering pusing.
Karena kondisi itulah, Umma jarang sekali melakukan pekerjaan rumah. Lebih banyak tidur dan berbaring untuk beristirahat. Karenanya, Abah lah yang banyak membantu Umma seperti menyuci, mengepel, menyapu, dan mencuci piring atau gelas. Umma pun tidak memiliki kekuatan untuk melakukan aktivitas memasak. Oleh karena itu, Umma dan Abah lebih banyak beli makan di luar. Dan tentu saja di masa-masa ini terjadi pengeluaran yang lebih banyak. Karena apa-apa harus beli. Hehehehe...
Di saat trimester pertama ini juga, selain faktor kesehatan yang menurun, Umma merasa sisi psikologis juga sangat berubah. Bawaannya selalu ingin menangis dan ingin pulang ke kampung halaman Umma. Mengingat saat itu Umma tidak ada teman kalau di kontrakan, karena Abah bekerja. Jadi Umma merasa kesepian dan sendiri. Alhamdulillah, Ummi bisa bersabar sampai akhirnya mbah uti dan mbah akung menjemput Umma pulang ke kampung halaman untuk berlebaran di sana. Sementara Umma pulang duluan ke kampung halaman, Abah ditinggal di Bekasi. Baru seminggu menjelang lebaran, Abah menyusul ke Lampung.
Selama di Lampung, alhamdulillah kondisi Umma membaik. Perlahan-perlahan Umma sudah doyan makan dan tidak muntah lagi. Meskipun masih mual, tapi hanya kadangkala, tidak setiap hari. Waktu itu, kandungan Umma udah menginjak usia empat bulan. Memasuki trimester kedua kehamilan, Umma sudah lebih baik. Berat badan Umma pun mulai meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Dan perut Umma semakin terlihat menonjol dengan jelas, artinya dedek bayi sudah mulai tumbuh di dalam perut Umma.
Kurang lebih dua bulan Umma ada di Lampung, baru setelah itu Abah menjemput Umma ke Lampung, dan kembali ke Bekasi. Selama di Lampung dan berjauhan dari Abah, Umma suka merasa kangen dengan Abah. Terkadang suka menangis, karena dedek bayi dan Umma tidak bisa bertemu Abah setiap hari. Alhamdulillah, setelah Umma merasa sudah sehat dan bisa bepergian jauh, akhirnya Umma pulang ke Bekasi dijemput Abah. Kita kembali ke Bekasi naik pesawat dan kereta api.
Di Bekasi, kurang lebih cuma dua bulan juga. Setelah itu Umma dijemput Mbah Akung dan Mbah Uti lagi pulang ke Lampung. Karena Umma berencana melahirkan di Lampung. Supaya ada teman yang menemani. Sebab Abah kerjanya ada dua shift, jadi tidak bisa selalu standby. Selama di Lampung, Umma beberapa kali periksa kandungan. Dan, berat badan dedek bayi selalu kurang dari yang seharusnya. Jadi Umma diminta banyak makan Alpukat, telor ayam kampung, ice cream dan juga minum susu. Alhamdulillah memasuki usia kandungan 36 weeks, dedek bayi beratnya sudah nambah bahkan sampai 3 kg. Sekarang Umma tinggal menunggu saat kelahiran tiba. Mohon doanya ya buat sahabat dedek bayi, Umma dan Abah. Semoga Allah berikan kelancaraan, kemudahan, dan keselamatan buat Umma dan dedek bayi saat waktu persalinan nanti. Begitulah sedikit cerita dari Umma tentang kehamilan dedek bayi. Suka duka saat hamil, semoga perjuangan ini Allah balas dengan banyak kebaikan dan dedek menjadi anak yang sholih/sholiha. Aamiin ya Allah...
![]() |
| usia dedek bayi saat 4 bulan |
![]() |
| usia dedek bayi saat 6 bulan |
![]() |
| usia dedek bayi saat 8 bulan |
Minggu, 07 Oktober 2018
Dedek Bayi 33 Weeks
Assalamu'alaikum Wr Wb...
Hai teman-teman... Gimana kabar kalian semua?
Lama sekali aku tidak posting disini, maafkan aku ya..☺
Karena di rumah kontrakan Ummi dan Abah, sinyal internetnya susah sekali.
Oya,, Usia aku kini sudah 33 weeks lho. Alhamdulillah selasa kemarin (2 Oktober 2018) aku periksa ke dokter. Kata dokter, aku sehat. posisi kepalaku sudah di bawah, dan air ketuban Umma juga cukup. Tapi, kata dokter berat badan ku masih kurang. BB ku saat diperiksa kemarin cuma 1,8 Kg, padahal seharusnya sudah di atas 2 Kg. Dokter menyarankan ke Umma supaya Umma banyak makan lagi. Seperti minum susu dua kali sehari, makan telor ayam kampung sehari 4 biji, serta makan alpukat. Teman-teman Umma juga menyarankan, supaya Umma minum madu, sari kurma, makanan yang manis-manis, ice cream, dan sayuran hijau.
Sebelum ke rumah sakit, Umma sempat periksa ke puskesmas. Dan hasil tes darah menunjukkan Hb Umma rendah, cuma 10 Hb-nya. Pantesan Umma suka ngerasa pusing, lemas, dan seperti kehilangan tenaga. Mengingat Umma punya riwayat darah rendah, dan tekanan darah yang cenderung rendah, Umma diminta banyak minum air putih, vitamin, sayuran hijau, buah, dan makanan bergizi lainnya.
Saat ini, aku sudah mulai aktif di perut Umma. Aku suka gerak-gerak dan nendang-nendang perut Umma. Aku merasa, di dalam rahim Umma sudah mulai agak sempit. Mungkin karena badanku yang semakin besar. Oya, aku suka sekali mendengarkan kisah-kisah dari Al-Qur'an, yang Umma bacakan buatku ketika menjelang tidur atau di pagi hari. Aku juga suka lhoh mendengar Umma tilawah. Juga ketika Umma mengajakku pergi jalan-jalan pagi. Ketika jalan-jalan di depan rumah mbah akung, Umma kadang bersholawat untukku, kadang juga mengajakku bicara. Aku senang sekali mendengarnya.
Mmmm... Aku kadang merasa sedih, karena aku rindu sekali dengan Abah. Abahku saat ini belum bisa menemaniku dan Umma disini. Soalnya Abah masih ada pekerjaan. Kata Umma, Abah sedang mencari nafkah buat aku dan Umma. Juga buat cari biaya persalinan atau kelahiranku nanti. Setiap sehabis sholat, aku dan Umma selalu mendoakan Abah. Semoga Abah selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan keselamatan selama di tempat pekerjaannya. Juga ketika dalam perjalanan berangkat dan pulang dari bekerja. Aku sayaaaanggg sekali sama Umma dan Abah.
Kata Umma lagi, Abah selalu rindu denganku dan Umma. Abah ingiiiin sekali segera menggendongku. Abah ingin aku ini adalah bayi perempuan. Kata Abah, bayi perempuan kalau udah waktunya jalan nanti lucu. Aku juga rindu diciumi Abah. Sewaktu aku belum pulang ke rumah mbah Akung, Abah selalu mencium perut Umma. Menciumi aku sebelum berangkat kerja, atau sewaktu lagi nonton tv. Semoga Abah sehat-sehat selalu ya...
Teman-teman, cukup sekian cerita sore ini ya... Aku dan Umma mau bersiap-siap untuk sholat magrib. Kita sambung lagi esok hari ya.. Makasih sudah membaca ceritaku sore ini... Salam dari Dedek Bayi dan Umma... :-)
Hai teman-teman... Gimana kabar kalian semua?
Lama sekali aku tidak posting disini, maafkan aku ya..☺
Karena di rumah kontrakan Ummi dan Abah, sinyal internetnya susah sekali.
Oya,, Usia aku kini sudah 33 weeks lho. Alhamdulillah selasa kemarin (2 Oktober 2018) aku periksa ke dokter. Kata dokter, aku sehat. posisi kepalaku sudah di bawah, dan air ketuban Umma juga cukup. Tapi, kata dokter berat badan ku masih kurang. BB ku saat diperiksa kemarin cuma 1,8 Kg, padahal seharusnya sudah di atas 2 Kg. Dokter menyarankan ke Umma supaya Umma banyak makan lagi. Seperti minum susu dua kali sehari, makan telor ayam kampung sehari 4 biji, serta makan alpukat. Teman-teman Umma juga menyarankan, supaya Umma minum madu, sari kurma, makanan yang manis-manis, ice cream, dan sayuran hijau.
Sebelum ke rumah sakit, Umma sempat periksa ke puskesmas. Dan hasil tes darah menunjukkan Hb Umma rendah, cuma 10 Hb-nya. Pantesan Umma suka ngerasa pusing, lemas, dan seperti kehilangan tenaga. Mengingat Umma punya riwayat darah rendah, dan tekanan darah yang cenderung rendah, Umma diminta banyak minum air putih, vitamin, sayuran hijau, buah, dan makanan bergizi lainnya.
Saat ini, aku sudah mulai aktif di perut Umma. Aku suka gerak-gerak dan nendang-nendang perut Umma. Aku merasa, di dalam rahim Umma sudah mulai agak sempit. Mungkin karena badanku yang semakin besar. Oya, aku suka sekali mendengarkan kisah-kisah dari Al-Qur'an, yang Umma bacakan buatku ketika menjelang tidur atau di pagi hari. Aku juga suka lhoh mendengar Umma tilawah. Juga ketika Umma mengajakku pergi jalan-jalan pagi. Ketika jalan-jalan di depan rumah mbah akung, Umma kadang bersholawat untukku, kadang juga mengajakku bicara. Aku senang sekali mendengarnya.
Mmmm... Aku kadang merasa sedih, karena aku rindu sekali dengan Abah. Abahku saat ini belum bisa menemaniku dan Umma disini. Soalnya Abah masih ada pekerjaan. Kata Umma, Abah sedang mencari nafkah buat aku dan Umma. Juga buat cari biaya persalinan atau kelahiranku nanti. Setiap sehabis sholat, aku dan Umma selalu mendoakan Abah. Semoga Abah selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan keselamatan selama di tempat pekerjaannya. Juga ketika dalam perjalanan berangkat dan pulang dari bekerja. Aku sayaaaanggg sekali sama Umma dan Abah.
Kata Umma lagi, Abah selalu rindu denganku dan Umma. Abah ingiiiin sekali segera menggendongku. Abah ingin aku ini adalah bayi perempuan. Kata Abah, bayi perempuan kalau udah waktunya jalan nanti lucu. Aku juga rindu diciumi Abah. Sewaktu aku belum pulang ke rumah mbah Akung, Abah selalu mencium perut Umma. Menciumi aku sebelum berangkat kerja, atau sewaktu lagi nonton tv. Semoga Abah sehat-sehat selalu ya...
Teman-teman, cukup sekian cerita sore ini ya... Aku dan Umma mau bersiap-siap untuk sholat magrib. Kita sambung lagi esok hari ya.. Makasih sudah membaca ceritaku sore ini... Salam dari Dedek Bayi dan Umma... :-)
Minggu, 15 Juli 2018
Umma Hamil Dedek Bayi
Assalamu'alaikum teman-teman...
Sementara ini Umma dan Abah panggil aku dedek bayi... Kata Umma, aku ada di perut Umma sudah lima bulan. Waktu pertama kali Umma tau kalau aku ada di perut Umma, Umma dan Abah bahagia sekali. Karena Umma dan Abah sudah menunggu-nunggu hingga dua bulan lamanya. Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT mengizinkan aku ada di perut Umma.
Cerita dari Umma, waktu itu Umma sudah melakukan test beberapa kali, tetapi hasilnya selalu negatif. Sampai akhirnya Umma beli lagi alat test kehamilan yang baru. Dan setelah digunakan, ternyata hasilnya negatif lagi. Ummi sangat sedih, karena Umma sudah sangat ingin aku hadir di perut Umma. Lalu, secara tidak sengaja Abah melihat alat tes kehamilan diletakkan Umma di atas lemari. Abah pun bertanya kepada Umma, apakah Umma melakukan tes kehamilan? Bagaimana hasilnya, kata Abah bertanya ke Umma lagi. Umma meminta Abah untuk melihat sendiri dan hasilnya positif. Umma hamil? Kata Abah. Umma bilang tidak, hasilnya negatif ketika Umma lihat hasil test kehamilan. Lalu Abah menunjukkan alat test kehamilan tersebut kepada Umma, dan rupanya ada strip dua garis. Umma pun seakan tidak percaya, tapi sangat bahagia, berarti sekarang Umma hamil ya Abah. Umma dan Abah punya dedek bayi....
Maha Besar Allah SWT dan segala puji bagi Allah SWT yang sudah memberikan kesempatan kepada Umma untuk hamil dedek bayi. Abah pun turut bersyukur. Umma dan Abah larut dalam kesyukuran dan kebahagiaan.
Aku juga senang lho teman-teman bisa hadir diantara Umma dan Abah.. Sekarang aku lagi asyik-asyiknya menghuni perut Umma. Doain aku ya semoga aku selalu sehat dan bisa ketemu Umma dan Abah saat tiba waktunya nanti...
Sementara ini Umma dan Abah panggil aku dedek bayi... Kata Umma, aku ada di perut Umma sudah lima bulan. Waktu pertama kali Umma tau kalau aku ada di perut Umma, Umma dan Abah bahagia sekali. Karena Umma dan Abah sudah menunggu-nunggu hingga dua bulan lamanya. Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT mengizinkan aku ada di perut Umma.
Cerita dari Umma, waktu itu Umma sudah melakukan test beberapa kali, tetapi hasilnya selalu negatif. Sampai akhirnya Umma beli lagi alat test kehamilan yang baru. Dan setelah digunakan, ternyata hasilnya negatif lagi. Ummi sangat sedih, karena Umma sudah sangat ingin aku hadir di perut Umma. Lalu, secara tidak sengaja Abah melihat alat tes kehamilan diletakkan Umma di atas lemari. Abah pun bertanya kepada Umma, apakah Umma melakukan tes kehamilan? Bagaimana hasilnya, kata Abah bertanya ke Umma lagi. Umma meminta Abah untuk melihat sendiri dan hasilnya positif. Umma hamil? Kata Abah. Umma bilang tidak, hasilnya negatif ketika Umma lihat hasil test kehamilan. Lalu Abah menunjukkan alat test kehamilan tersebut kepada Umma, dan rupanya ada strip dua garis. Umma pun seakan tidak percaya, tapi sangat bahagia, berarti sekarang Umma hamil ya Abah. Umma dan Abah punya dedek bayi....
Maha Besar Allah SWT dan segala puji bagi Allah SWT yang sudah memberikan kesempatan kepada Umma untuk hamil dedek bayi. Abah pun turut bersyukur. Umma dan Abah larut dalam kesyukuran dan kebahagiaan.
Aku juga senang lho teman-teman bisa hadir diantara Umma dan Abah.. Sekarang aku lagi asyik-asyiknya menghuni perut Umma. Doain aku ya semoga aku selalu sehat dan bisa ketemu Umma dan Abah saat tiba waktunya nanti...
Kamis, 24 Januari 2013
suamiku seorang duda...
Aku masih tak habis pikir,
mengapa sampai dengan hari ini aku bersuamikan seorang duda beranak satu. Tak
pernah ku bayangkan sebelumnya aku akan menikah dengan seorang duda. Meskipun
secara usia kami hanya berselisih lima tahun.
Saat aku masih gadis dulu, aku
bermimpi bersuamikan seorang lelaki yang single, seusia denganku atau minimal
lebih tua dua tahun dariku. Ya tentunya pertimbangan agama dan akhlak lebih ku
utamakan. Tapi ternyata takdir allah berbicara lain dengan yang ku harapkan.
Akan ku ceritakan kisah
pernikahanku pada kalian. Pertemuan kami sangatlah singkat. Saat itu aku
bersilaturahmi ke rumah murrabbiku yang lama. Kunjunganku kesana dalam rangka
bermain saja, tapi memang ada sedikit misi yang kubawa. Aku ingin berdiskusi
dan menanyakan perihal rumah tangga. Ya ,, itu semua dalam rangka mempersiapkan
diriku untuk menjadi istri bagi suami dan seorang ibu untuk anak-anak ku kelak.
Karena dua bulan yang lalu aku sudah memasukkan proposalku pada murrabbi
baruku.
Tepat saat aku berkunjung
kesana, ada seorang tamu lelaki yang sedang berbincang dengan abi, suami
murabbi ku. Saat aku melewati mereka yang sedang berbincang di ruang depan,
sekilas memang aku melihat sosok lelaki itu. Namun, tak ada perasaan apa-apa
karena aku tak mengenal siapa lelaki itu, yang pasti ia membawa seorang anak
usia 5 tahun bernama Fatimah.
Entah mengapa saat aku sedang
menunggu ummi diruang tengah, Fatimah, yang ternyata adalah anak lelaki itu
juga berada di ruang tengah. Kemudian kami saling berkenalan. Aku mengamati
anak itu, sangat menggemaskan dan lucu sekali. Sepertinya dia periang, karena
dia selalu tersenyum dan banyak bicara. Ada satu kata yang masih ku ingat
sampai saat ini tentang pertanyaannya kepadaku “amah cantik. Amah sudah menikah belum?” tanyanya polos padaku. Aku
kemudian tersenyum dan menatapnya, ku jawab pertanyaannya “belum sayang… mohon didoakan ya amahnya supaya segera menikah”
jawab ku singkat. Kemudian Fatimah memejamkan matanya dan tertunduk dalam diam,
tangannya menengadah, sepertinya ia sedang berdoa. Pikirku saat itu menakjubkan
sekali anak ini. Aku tersenyum menatapnya.
***
Satu bulan berlalu, aku
mendapatkan kabar dari murabbiku. Sudah ada ikhwan yang ingin berta’aruf
kepadaku. Ummi menyuruhku untuk ke rumahnya. Saat ku pegang proposal ikhwan
tersebut, ku baca namanya, aku tak mengenal siapa dia. Ku baca riwayat
organisasinya, Yogyakarta? Owh,, alumni dari kampus Yogyakarta.. dalam batin
aku berkata lampung-yogyakarta?? jauh sekali…. ku baca satu per satu, tentang
pekerjaannya dan juga tentang kesibukan atau aktivitas dakwahnya…
Namun aku tertegun pada satu informasi yang tertulis
dalam dua lembar kertas yang ku pegang… status?
Sudah menikah satu kali?
Memiliki satu orang anak usia
lima tahun?
Ku ulangi lagi, ku baca lagi,
owh… benar.. aku tidak salah membaca…
seolah ummi membaca mimik yang
tersirat dari wajahku… belum tuntas aku membaca biodata ikhwan tersebut, aku
bahkan belum melihat fotonya…
ummi berkata padaku “aisyha…
beliau, sedang mencari ibu untuk anaknya. Istrinya meninggal satu tahun yang
lalu karena kecelakaan. Kini mereka hanya tinggal berdua di kota ini. mereka –lelaki itu dan istrinya- adalah asli
orang Yogyakarta. Karena mendapatkan pekerjaan di sini akhirnya mereka satu
keluarga menetap disini. Tak ada keluarga dekat di kota ini. Jadi, sepeninggal
istrinya beliau mengurus anaknya sendiri”..
aku mendengarkan penuturan
ummi dengan seksama. Meski seolah itu informasi tambahan yang memintaku untuk
menerimanya, dalam hati aku masih belum percaya… mengapa harus seorang duda
ummi? Bagaimana dengan keluargaku dan pandangan masyarakat di lingkungan
rumahku nanti? Aku masih berusaha mengendalikan emosiku… entah mengapa setelah
penuturan ummi aku justru enggan menyelesaikan membaca biodata ikhwan tersebut.
Ku tutup kembali map hijau berisikan proposal ikhwan itu.
Aku menghadap ke ummi “ummi,, aisyha belum bisa menjawab hari ini.
Beri waktu aisyha tiga hari untuk meminta petunjuk allah”.
***
Sudah dua hari berlalu. Aneh,
aku belum menemukan jawaban apa pun. Harus menolak atau harus menerima? Waktu ku tinggal satu hari lagi.. malam ini
aku akan mencobanya kembali dalam istikhorohku. Ya allah, bantu hamba-Mu ini…
Engkaulah yang maha mengetahui.. Engkau tahu mana yang terbaik untukku..kalaulah aku harus menikah dengan lelaki yang telah memiliki anak, insyaallah aku siap jika itu yang terbaik untukku menurut-Mu...
***
Rasanya sangat mengantuk
sekali pagi ini, usai sholat shubuh dan membaca al-ma’tsurat pagi, rasanya tak
kuasa aku menahan rasa kantukku. Maklum saja, semalaman aku lembur
menyelesaikan nilai raport anak didikku.
Pukul satu malam aku tidur dan pukul tiga pagi aku telah bangun kembali untuk
menunaikan tahajudku. Dalam tidurku yang singkat sehabis shubuh, aku
bermimpi. Aku sedang berjalan seorang diri, hujan yang deras membuatku harus
berteduh sebelum melanjutkan perjalanan. Maka aku pun berteduh di tempat yang
sepi. Satu tempat yang aku tak bisa mengungkapkannya tempat apa itu. Saat aku
duduk di tempat itu, datanglah seorang wanita bersama seorang anak kecil. Yang
ku ingat mereka berpakaian warna putih. Kemudian wanita itu berkata padaku, “ukhti, jadiilah istri yang sholiha untuk
suamimu.. dan jadilah ibu yang baik untuk anakku”. Kemudian wanita itu
pergi dengan senyumnya dan meninggalkan anak kecil itu bersamaku.
Aku tersentak dalam tidurku
yang singkat ini. Kemudian aku teringat akan proposal ikhwan tiga hari yang
lalu. Seorang wanita? Anak kecil? Ya allah… inikah jwaban dari doa-doaku
kepada-Mu? Bismillah… dengan segala usahaku meluruskan niat, jikalau ini memang
jawaban dari-Mu.. maka mudahkan aku untuk mengusahakannya… insyaallah aku akan
menerima lelaki itu menjadi suamiku… dan
juga tentu anaknya, menjadi anakku.
Tiga bulan berlalu… kini rumah tanggaku memasuki
usia satu bulan. Alhamdulillah, rasanya semua dimudahkan oleh Allah… mulai dari
pembicaraanku dengan kedua orangtuaku, proses pertemuan yang sangat mengesankan
(ta’aruf), juga proses pelaksanaan walimah yang menyenangkan.. tak ada beban
tak ada kegelisahan… yang ku rasakan adalah rasa aman dan ringan
menjalankannya.. semoga ini keberkahan dari Allah…
Satu hal yang ingin ku
ceritakan… kalau sepasang pengantin baru melewati malam pertamanya hanya berdua
saja… maka tidak dengan kami… usai resepsi pernikahanku, anakku, Fatimah
berkata “bunda, Fatimah sudah lama nggak di peluk, di belai, dan tidur sama
ummi. Jadi malam ini, malam pertama bunda sama abi, Fatimah ikut tidur bareng
ya”.. polos sekali anak ini pikirku, aku tersenyum.. begitu juga dengan
semua orang yang tertawa mendengar celotehnya.. tiba-tiba terdengar celetuk mas adi
–suamiku-
“yah… Fatimah kok gitu? Abi kan juga sudah lama nggak
dipeluk dan tidur sama ummi?”
Tak mau kalah dengan abinya… Fatimah
melanjutkan celotehnya, “abi, tau gak
sih?? Fatimah sudah berdoa sejak Fatimah bertemu bunda di tempat ustadz
zakaria. Saat abi berbincang sama ustadz, Fatimah di belakang sama bunda. Saat
bunda minta didoakan untuk segera menikah, Fatimah langsung berdoa…
mudah-mudahan bunda menikah dengan abi. Karena Fatimah berdoa lebih dulu dari
abi… jadi nggak apa-apa ya abi kalau malam ini Fatimah tidur dengan abi dan
bunda??”.
Aku menatap suamiku… iya pun
mengiyakan permintaan anaknya…. Anak kami… kami pun menciumnya bersamaan…
Ya allah…
Jadikan rumah tangga kami
rumah tangga yang dipenuhi dengan keberkahan dari-Mu
Rumah tangga yang sejuk dan
dipenuhi dengan nilai-nilai islam
Rumah tangga yang berfungsi
sebagai terminal pemberhentian lelah… dan pemberangkatan semangat..
Rumah tangga yang hidup dengan
ajaran nabi-Mu
Rumah tangga yang menjadi
teladan bagi keluarga, kerabat, dan masayarakat
Rumah tangga yang saling
mengisi
Rumah tangga yang harmonis
Rumah tangga yang bahagia
Rumang tangga yang mendapatkan
Ridho-Mu …
Aamiin… ya rabbal alamiin…
Langganan:
Komentar (Atom)


