Aku masih tak habis pikir,
mengapa sampai dengan hari ini aku bersuamikan seorang duda beranak satu. Tak
pernah ku bayangkan sebelumnya aku akan menikah dengan seorang duda. Meskipun
secara usia kami hanya berselisih lima tahun.
Saat aku masih gadis dulu, aku
bermimpi bersuamikan seorang lelaki yang single, seusia denganku atau minimal
lebih tua dua tahun dariku. Ya tentunya pertimbangan agama dan akhlak lebih ku
utamakan. Tapi ternyata takdir allah berbicara lain dengan yang ku harapkan.
Akan ku ceritakan kisah
pernikahanku pada kalian. Pertemuan kami sangatlah singkat. Saat itu aku
bersilaturahmi ke rumah murrabbiku yang lama. Kunjunganku kesana dalam rangka
bermain saja, tapi memang ada sedikit misi yang kubawa. Aku ingin berdiskusi
dan menanyakan perihal rumah tangga. Ya ,, itu semua dalam rangka mempersiapkan
diriku untuk menjadi istri bagi suami dan seorang ibu untuk anak-anak ku kelak.
Karena dua bulan yang lalu aku sudah memasukkan proposalku pada murrabbi
baruku.
Tepat saat aku berkunjung
kesana, ada seorang tamu lelaki yang sedang berbincang dengan abi, suami
murabbi ku. Saat aku melewati mereka yang sedang berbincang di ruang depan,
sekilas memang aku melihat sosok lelaki itu. Namun, tak ada perasaan apa-apa
karena aku tak mengenal siapa lelaki itu, yang pasti ia membawa seorang anak
usia 5 tahun bernama Fatimah.
Entah mengapa saat aku sedang
menunggu ummi diruang tengah, Fatimah, yang ternyata adalah anak lelaki itu
juga berada di ruang tengah. Kemudian kami saling berkenalan. Aku mengamati
anak itu, sangat menggemaskan dan lucu sekali. Sepertinya dia periang, karena
dia selalu tersenyum dan banyak bicara. Ada satu kata yang masih ku ingat
sampai saat ini tentang pertanyaannya kepadaku “amah cantik. Amah sudah menikah belum?” tanyanya polos padaku. Aku
kemudian tersenyum dan menatapnya, ku jawab pertanyaannya “belum sayang… mohon didoakan ya amahnya supaya segera menikah”
jawab ku singkat. Kemudian Fatimah memejamkan matanya dan tertunduk dalam diam,
tangannya menengadah, sepertinya ia sedang berdoa. Pikirku saat itu menakjubkan
sekali anak ini. Aku tersenyum menatapnya.
***
Satu bulan berlalu, aku
mendapatkan kabar dari murabbiku. Sudah ada ikhwan yang ingin berta’aruf
kepadaku. Ummi menyuruhku untuk ke rumahnya. Saat ku pegang proposal ikhwan
tersebut, ku baca namanya, aku tak mengenal siapa dia. Ku baca riwayat
organisasinya, Yogyakarta? Owh,, alumni dari kampus Yogyakarta.. dalam batin
aku berkata lampung-yogyakarta?? jauh sekali…. ku baca satu per satu, tentang
pekerjaannya dan juga tentang kesibukan atau aktivitas dakwahnya…
Namun aku tertegun pada satu informasi yang tertulis
dalam dua lembar kertas yang ku pegang… status?
Sudah menikah satu kali?
Memiliki satu orang anak usia
lima tahun?
Ku ulangi lagi, ku baca lagi,
owh… benar.. aku tidak salah membaca…
seolah ummi membaca mimik yang
tersirat dari wajahku… belum tuntas aku membaca biodata ikhwan tersebut, aku
bahkan belum melihat fotonya…
ummi berkata padaku “aisyha…
beliau, sedang mencari ibu untuk anaknya. Istrinya meninggal satu tahun yang
lalu karena kecelakaan. Kini mereka hanya tinggal berdua di kota ini. mereka –lelaki itu dan istrinya- adalah asli
orang Yogyakarta. Karena mendapatkan pekerjaan di sini akhirnya mereka satu
keluarga menetap disini. Tak ada keluarga dekat di kota ini. Jadi, sepeninggal
istrinya beliau mengurus anaknya sendiri”..
aku mendengarkan penuturan
ummi dengan seksama. Meski seolah itu informasi tambahan yang memintaku untuk
menerimanya, dalam hati aku masih belum percaya… mengapa harus seorang duda
ummi? Bagaimana dengan keluargaku dan pandangan masyarakat di lingkungan
rumahku nanti? Aku masih berusaha mengendalikan emosiku… entah mengapa setelah
penuturan ummi aku justru enggan menyelesaikan membaca biodata ikhwan tersebut.
Ku tutup kembali map hijau berisikan proposal ikhwan itu.
Aku menghadap ke ummi “ummi,, aisyha belum bisa menjawab hari ini.
Beri waktu aisyha tiga hari untuk meminta petunjuk allah”.
***
Sudah dua hari berlalu. Aneh,
aku belum menemukan jawaban apa pun. Harus menolak atau harus menerima? Waktu ku tinggal satu hari lagi.. malam ini
aku akan mencobanya kembali dalam istikhorohku. Ya allah, bantu hamba-Mu ini…
Engkaulah yang maha mengetahui.. Engkau tahu mana yang terbaik untukku..kalaulah aku harus menikah dengan lelaki yang telah memiliki anak, insyaallah aku siap jika itu yang terbaik untukku menurut-Mu...
***
Rasanya sangat mengantuk
sekali pagi ini, usai sholat shubuh dan membaca al-ma’tsurat pagi, rasanya tak
kuasa aku menahan rasa kantukku. Maklum saja, semalaman aku lembur
menyelesaikan nilai raport anak didikku.
Pukul satu malam aku tidur dan pukul tiga pagi aku telah bangun kembali untuk
menunaikan tahajudku. Dalam tidurku yang singkat sehabis shubuh, aku
bermimpi. Aku sedang berjalan seorang diri, hujan yang deras membuatku harus
berteduh sebelum melanjutkan perjalanan. Maka aku pun berteduh di tempat yang
sepi. Satu tempat yang aku tak bisa mengungkapkannya tempat apa itu. Saat aku
duduk di tempat itu, datanglah seorang wanita bersama seorang anak kecil. Yang
ku ingat mereka berpakaian warna putih. Kemudian wanita itu berkata padaku, “ukhti, jadiilah istri yang sholiha untuk
suamimu.. dan jadilah ibu yang baik untuk anakku”. Kemudian wanita itu
pergi dengan senyumnya dan meninggalkan anak kecil itu bersamaku.
Aku tersentak dalam tidurku
yang singkat ini. Kemudian aku teringat akan proposal ikhwan tiga hari yang
lalu. Seorang wanita? Anak kecil? Ya allah… inikah jwaban dari doa-doaku
kepada-Mu? Bismillah… dengan segala usahaku meluruskan niat, jikalau ini memang
jawaban dari-Mu.. maka mudahkan aku untuk mengusahakannya… insyaallah aku akan
menerima lelaki itu menjadi suamiku… dan
juga tentu anaknya, menjadi anakku.
Tiga bulan berlalu… kini rumah tanggaku memasuki
usia satu bulan. Alhamdulillah, rasanya semua dimudahkan oleh Allah… mulai dari
pembicaraanku dengan kedua orangtuaku, proses pertemuan yang sangat mengesankan
(ta’aruf), juga proses pelaksanaan walimah yang menyenangkan.. tak ada beban
tak ada kegelisahan… yang ku rasakan adalah rasa aman dan ringan
menjalankannya.. semoga ini keberkahan dari Allah…
Satu hal yang ingin ku
ceritakan… kalau sepasang pengantin baru melewati malam pertamanya hanya berdua
saja… maka tidak dengan kami… usai resepsi pernikahanku, anakku, Fatimah
berkata “bunda, Fatimah sudah lama nggak di peluk, di belai, dan tidur sama
ummi. Jadi malam ini, malam pertama bunda sama abi, Fatimah ikut tidur bareng
ya”.. polos sekali anak ini pikirku, aku tersenyum.. begitu juga dengan
semua orang yang tertawa mendengar celotehnya.. tiba-tiba terdengar celetuk mas adi
–suamiku-
“yah… Fatimah kok gitu? Abi kan juga sudah lama nggak
dipeluk dan tidur sama ummi?”
Tak mau kalah dengan abinya… Fatimah
melanjutkan celotehnya, “abi, tau gak
sih?? Fatimah sudah berdoa sejak Fatimah bertemu bunda di tempat ustadz
zakaria. Saat abi berbincang sama ustadz, Fatimah di belakang sama bunda. Saat
bunda minta didoakan untuk segera menikah, Fatimah langsung berdoa…
mudah-mudahan bunda menikah dengan abi. Karena Fatimah berdoa lebih dulu dari
abi… jadi nggak apa-apa ya abi kalau malam ini Fatimah tidur dengan abi dan
bunda??”.
Aku menatap suamiku… iya pun
mengiyakan permintaan anaknya…. Anak kami… kami pun menciumnya bersamaan…
Ya allah…
Jadikan rumah tangga kami
rumah tangga yang dipenuhi dengan keberkahan dari-Mu
Rumah tangga yang sejuk dan
dipenuhi dengan nilai-nilai islam
Rumah tangga yang berfungsi
sebagai terminal pemberhentian lelah… dan pemberangkatan semangat..
Rumah tangga yang hidup dengan
ajaran nabi-Mu
Rumah tangga yang menjadi
teladan bagi keluarga, kerabat, dan masayarakat
Rumah tangga yang saling
mengisi
Rumah tangga yang harmonis
Rumah tangga yang bahagia
Rumang tangga yang mendapatkan
Ridho-Mu …
Aamiin… ya rabbal alamiin…