Kamis, 24 Januari 2013

suamiku seorang duda...

Aku masih tak habis pikir, mengapa sampai dengan hari ini aku bersuamikan seorang duda beranak satu. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya aku akan menikah dengan seorang duda. Meskipun secara usia kami hanya berselisih lima tahun.

Saat aku masih gadis dulu, aku bermimpi bersuamikan seorang lelaki yang single, seusia denganku atau minimal lebih tua dua tahun dariku. Ya tentunya pertimbangan agama dan akhlak lebih ku utamakan. Tapi ternyata takdir allah berbicara lain dengan yang ku harapkan.

Akan ku ceritakan kisah pernikahanku pada kalian. Pertemuan kami sangatlah singkat. Saat itu aku bersilaturahmi ke rumah murrabbiku yang lama. Kunjunganku kesana dalam rangka bermain saja, tapi memang ada sedikit misi yang kubawa. Aku ingin berdiskusi dan menanyakan perihal rumah tangga. Ya ,, itu semua dalam rangka mempersiapkan diriku untuk menjadi istri bagi suami dan seorang ibu untuk anak-anak ku kelak. Karena dua bulan yang lalu aku sudah memasukkan proposalku pada murrabbi baruku.

Tepat saat aku berkunjung kesana, ada seorang tamu lelaki yang sedang berbincang dengan abi, suami murabbi ku. Saat aku melewati mereka yang sedang berbincang di ruang depan, sekilas memang aku melihat sosok lelaki itu. Namun, tak ada perasaan apa-apa karena aku tak mengenal siapa lelaki itu, yang pasti ia membawa seorang anak usia 5 tahun bernama Fatimah.

Entah mengapa saat aku sedang menunggu ummi diruang tengah, Fatimah, yang ternyata adalah anak lelaki itu juga berada di ruang tengah. Kemudian kami saling berkenalan. Aku mengamati anak itu, sangat menggemaskan dan lucu sekali. Sepertinya dia periang, karena dia selalu tersenyum dan banyak bicara. Ada satu kata yang masih ku ingat sampai saat ini tentang pertanyaannya kepadaku “amah cantik. Amah sudah menikah belum?” tanyanya polos padaku. Aku kemudian tersenyum dan menatapnya, ku jawab pertanyaannya “belum sayang… mohon didoakan ya amahnya supaya segera menikah” jawab ku singkat. Kemudian Fatimah memejamkan matanya dan tertunduk dalam diam, tangannya menengadah, sepertinya ia sedang berdoa. Pikirku saat itu menakjubkan sekali anak ini. Aku tersenyum menatapnya.


***


Satu bulan berlalu, aku mendapatkan kabar dari murabbiku. Sudah ada ikhwan yang ingin berta’aruf kepadaku. Ummi menyuruhku untuk ke rumahnya. Saat ku pegang proposal ikhwan tersebut, ku baca namanya, aku tak mengenal siapa dia. Ku baca riwayat organisasinya, Yogyakarta? Owh,, alumni dari kampus Yogyakarta.. dalam batin aku berkata lampung-yogyakarta?? jauh sekali…. ku baca satu per satu, tentang pekerjaannya dan juga tentang kesibukan atau aktivitas dakwahnya…

Namun  aku tertegun pada satu informasi yang tertulis dalam dua lembar kertas yang ku pegang… status?
Sudah menikah satu kali?
Memiliki satu orang anak usia lima tahun?
Ku ulangi lagi, ku baca lagi, owh… benar.. aku tidak salah membaca…
seolah ummi membaca mimik yang tersirat dari wajahku… belum tuntas aku membaca biodata ikhwan tersebut, aku bahkan belum melihat fotonya…
ummi berkata padaku  “aisyha… beliau, sedang mencari ibu untuk anaknya. Istrinya meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan. Kini mereka hanya tinggal berdua di kota ini.  mereka –lelaki itu dan istrinya- adalah asli orang Yogyakarta. Karena mendapatkan pekerjaan di sini akhirnya mereka satu keluarga menetap disini. Tak ada keluarga dekat di kota ini. Jadi, sepeninggal istrinya beliau mengurus anaknya sendiri”..
aku mendengarkan penuturan ummi dengan seksama. Meski seolah itu informasi tambahan yang memintaku untuk menerimanya, dalam hati aku masih belum percaya… mengapa harus seorang duda ummi? Bagaimana dengan keluargaku dan pandangan masyarakat di lingkungan rumahku nanti? Aku masih berusaha mengendalikan emosiku… entah mengapa setelah penuturan ummi aku justru enggan menyelesaikan membaca biodata ikhwan tersebut. Ku tutup kembali map hijau berisikan proposal ikhwan itu.
Aku menghadap ke ummi “ummi,, aisyha belum bisa menjawab hari ini. Beri waktu aisyha tiga hari untuk meminta petunjuk allah”.



***


Sudah dua hari berlalu. Aneh, aku belum menemukan jawaban apa pun. Harus menolak atau harus menerima?  Waktu ku tinggal satu hari lagi.. malam ini aku akan mencobanya kembali dalam istikhorohku. Ya allah, bantu hamba-Mu ini… Engkaulah yang maha mengetahui.. Engkau tahu mana yang terbaik untukku..kalaulah aku harus menikah dengan lelaki yang telah memiliki anak, insyaallah aku siap jika itu yang terbaik untukku menurut-Mu...

***

Rasanya sangat mengantuk sekali pagi ini, usai sholat shubuh dan membaca al-ma’tsurat pagi, rasanya tak kuasa aku menahan rasa kantukku. Maklum saja, semalaman aku lembur menyelesaikan nilai raport anak  didikku. Pukul satu malam aku tidur dan pukul tiga pagi aku telah bangun kembali untuk menunaikan tahajudku. Dalam tidurku yang singkat sehabis shubuh, aku bermimpi. Aku sedang berjalan seorang diri, hujan yang deras membuatku harus berteduh sebelum melanjutkan perjalanan. Maka aku pun berteduh di tempat yang sepi. Satu tempat yang aku tak bisa mengungkapkannya tempat apa itu. Saat aku duduk di tempat itu, datanglah seorang wanita bersama seorang anak kecil. Yang ku ingat mereka berpakaian warna putih. Kemudian wanita itu berkata padaku, “ukhti, jadiilah istri yang sholiha untuk suamimu.. dan jadilah ibu yang baik untuk anakku”. Kemudian wanita itu pergi dengan senyumnya dan meninggalkan anak kecil itu bersamaku.

Aku tersentak dalam tidurku yang singkat ini. Kemudian aku teringat akan proposal ikhwan tiga hari yang lalu. Seorang wanita? Anak kecil? Ya allah… inikah jwaban dari doa-doaku kepada-Mu? Bismillah… dengan segala usahaku meluruskan niat, jikalau ini memang jawaban dari-Mu.. maka mudahkan aku untuk mengusahakannya… insyaallah aku akan menerima lelaki  itu menjadi suamiku… dan juga tentu anaknya, menjadi anakku.

Tiga  bulan berlalu… kini rumah tanggaku memasuki usia satu bulan. Alhamdulillah, rasanya semua dimudahkan oleh Allah… mulai dari pembicaraanku dengan kedua orangtuaku, proses pertemuan yang sangat mengesankan (ta’aruf), juga proses pelaksanaan walimah yang menyenangkan.. tak ada beban tak ada kegelisahan… yang ku rasakan adalah rasa aman dan ringan menjalankannya.. semoga ini keberkahan dari Allah…

Satu hal yang ingin ku ceritakan… kalau sepasang pengantin baru melewati malam pertamanya hanya berdua saja… maka tidak dengan kami… usai resepsi pernikahanku, anakku, Fatimah berkata  “bunda, Fatimah sudah lama nggak di peluk, di belai, dan tidur sama ummi. Jadi malam ini, malam pertama bunda sama abi, Fatimah ikut tidur bareng ya”.. polos sekali anak ini pikirku, aku tersenyum.. begitu juga dengan semua orang yang tertawa mendengar celotehnya.. tiba-tiba terdengar celetuk mas adi –suamiku-
“yah… Fatimah kok gitu? Abi kan juga sudah lama nggak dipeluk dan tidur sama ummi?”

Tak mau kalah dengan abinya… Fatimah melanjutkan celotehnya, “abi, tau gak sih?? Fatimah sudah berdoa sejak Fatimah bertemu bunda di tempat ustadz zakaria. Saat abi berbincang sama ustadz, Fatimah di belakang sama bunda. Saat bunda minta didoakan untuk segera menikah, Fatimah langsung berdoa… mudah-mudahan bunda menikah dengan abi. Karena Fatimah berdoa lebih dulu dari abi… jadi nggak apa-apa ya abi kalau malam ini Fatimah tidur dengan abi dan bunda??”.

Aku menatap suamiku… iya pun mengiyakan permintaan anaknya…. Anak kami… kami pun menciumnya bersamaan…


Ya allah…
Jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang dipenuhi dengan keberkahan dari-Mu
Rumah tangga yang sejuk dan dipenuhi dengan nilai-nilai islam
Rumah tangga yang berfungsi sebagai terminal pemberhentian lelah… dan pemberangkatan semangat..
Rumah tangga yang hidup dengan ajaran nabi-Mu
Rumah tangga yang menjadi teladan bagi keluarga, kerabat, dan masayarakat
Rumah tangga yang saling mengisi
Rumah tangga yang harmonis
Rumah tangga yang bahagia
Rumang tangga yang mendapatkan Ridho-Mu …
Aamiin… ya rabbal alamiin…

16 komentar:

  1. Subhanallah....apapun mmg bisa terjadi jika atas izin Allah Mbak. saya terkesan sekali dengan ceritanya.

    BalasHapus
  2. terimakasih mb Anhy... maaf sudah lama ndak buka blog yang ini... ^_^

    BalasHapus
  3. subhanallah semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah ya mba, dan menjadi teladan buat anak-anak kelak, mohon doanya juga buat saya yang sedang ta'aruf dengan seorang duda yang telah memiliki 2 jagoan, mudah2an anak-anak beliau dapat menerima saya mejadi pendamping ayahnya.. aamiin :")

    BalasHapus
  4. subhanallah ..
    semoga aku bisa seperti mba mohon doa juga saya juga sedang ta'aruf dengang seorang pria dengan 2 jagoan semoga juga anaknya bisa menerima saya sebagai Bundanya kelak dan menjadi istri soleha untuk calon suamiku ini Amin :)

    BalasHapus
  5. terimakasih mbak-mbak semua, semoga dimudahkan ya ta'arufnya... dan diberikan kebarokan atas proses yang sedang dan akan dilalui... ^_^

    mohon maaf sebelumnya, saya ingin meluruskn bahwa sholat istikhoroh itu tidak diwujudkan dalam mimpi untuk jawabannya. sholat istikhoroh itu berfungsi untuk memantapkan pilihian, jadi ketika sudah menentukan pilihan, maka beristikhoroh untuk memantapkan... :-D

    BalasHapus
  6. subhanallah..
    itu lah jdoh.tdak prnah mgnal siapa dan dmna ia beradaa..
    dan juga dg statusnya..

    BalasHapus
  7. Ya begitulah rencana Alloh, kita harus bersukur dgn apa yg ada saat ini, jk kita g bs mndpt yg kita sukai,maka hendaknya kita menyukai apa yg sdh kita dapat, smntara smpe kini msh bnyk wanita yg blm mnfpt jodoh..

    BalasHapus
  8. Ceritanya sangat menyentuh sekali krn itu yg dialami pada saya yg akan menikah dg duda anak satu. awalnya sangat berat menerimanya krn saya baru tahu sebulan terakhir ini. Tp dia selalu sabar dan menyayangi saya wlwpn dia tahu bahwa saya sangat sulit menerimanya. Krn pernikahan sebelumnya cerai hidup dan hanya bertahan setahun. yg saya tahu bahwa mantan istrinya seorang wanita pemabuk, hobby clubbing dan pnh kedapatan berzinah dg lelaki lain saat mreka blm mnikah. mereka menikah saat itu krn kecelakaan. awalnya dikenalkan oleh temannya, tp pacar saya tdk suka dg wanita itu. smp akhirnya pacar saya diajak oleh temannya ke sebuah diskotik yg dia tdk tau sbnrnya bhw ajakan temannya itu utk bertemu dg mantan istrinya. krn mrasa tdk terima di bohongi, pacar saya lalu pergi. tetapi dia ditahan dan di cekokin minuman beralkohol smp mabuk. disana lah kejadian terjadi yg saya sndr tdk tau kronologisnya krn itu jauh sblm kami bertemu yakni 10th yg lalu. 3bln kmudian mantan istri dr pacar saya meminta sebuah pertanggungjawaban kpdnya krn dia sdh hamil 3bln. dan akhirnya mrekapun menikah, dan 6 bln kmudian lahirlah anak mreka. tak lama prnikahan mreka brakhir. pacarku pun menuntut utk bercerai. keluarga calon suami pun menjelaskan kejadian yg sebenarnya kpd saya dan meminta maaf kpd saya krn sudah tdk jujur dr awal. awalnya saya tdk percaya dan tdk terima, namun saya cari bukti2 itu sendiri. dan saya tau akhirnya kalau calon suami saya trnyata dijebak oleh wanita tsb krn wanita tsb sangat mencintai kekasihku smp saat ini. saya harap hubungan kami kedepan tdk ada lg satu orgpun yg mengganggu, krn kami saling mencintai dan kami sepakat utk menutup masa lalunya. orgtua kami sama2 merestui wlpn orgtua dan keluarga saya tdk ada yg mengetahui kejadian ini. saya berharap kedepannya bisa harmonis dg suami dan insha Allah dg anak2 kita kelak. Insha Allah saya terima dg lapang dada. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. masyaallah... semoga Allah swt karuniakan kebarokahan untuk keluarga mbak ya... ^-^

      Hapus
    2. Subhanalloh..semoga sya di pertemukan dgn wanita sperti anda,sebab sya seorang br anak satu.....

      Hapus
    3. Subhanallah... smoga allah swt sllu mmberi barokah dlm rmhtngga mba dan klrga. Mskpn jauh berbeda dgn hidu sy yg bersuami duda beranak 5.... smua allah yg mnntukan nsb kita msing2.

      Hapus
  9. Ya Allah smoga saya mendapatkan istri solehah sperti mbba yg menerima status duda. kebetulan saya juga duda ditinggal istri meninggal karna sakit leukimia, tidak ku sangka smua ini terjadi.

    BalasHapus
  10. Subhanallah .. saat ini saya sedang kembali membangun cinta dengan mantan pacar saya yang sekarang menjadi duda beranak 1 entah knapa hati ini mencintai dia tidak ada paksaan tapi semua terasa nyaman bagiku anaknya adalah separuh dari raganya . Maka jika ingin mendapatkan satu kesatuan juga harus bisa menerima masuk anaknya dalam kehidupan baru kelak .. 😊

    BalasHapus
  11. Subhanallah.... Sangat menyentuh sekali ceritanya ukhti... ����

    BalasHapus
  12. Aku jadi terharu ..
    Aku juga sedang dekat dengan duda beranak satu ukhty. Dia juga duda yang ditinggal meninggal istrinya karena sakit..

    BalasHapus
  13. Aku juga sedang mengalami yang seperti ini. Aku menjalani taaruf dg seorang duda anak 2. Keluarga aku belum menyetujui aku dengan dia. Apa yang harus saya lakukan...

    BalasHapus